banner 728x250

OTOPSI NEGERI EMPERAN SURGA: KETIKA MORALITAS MATI DI TANGAN PARA PEMUJA PANGGUNG

banner 120x600
banner 468x60

Rakyat Kenyang dengan Janji, Mati karena Kebijakan
Selama puluhan tahun, telinga rakyat diperkosa oleh narasi “negeri kaya raya” yang disemburkan lewat buku pelajaran dan pidato busuk para penguasa.

Namun, lihatlah realitasnya: kekayaan alam kita hanyalah pajangan yang membusuk di etalase. Para pemimpin bersulang di atas penderitaan rakyat yang senyumnya sudah mati rasa. Harapan rakyat bukan lagi jatuh seperti daun, tapi seperti sampah yang diinjak-injak oleh sepatu mengkilap para birokrat.

banner 325x300

Pelacuran Intelektual dan Komedi Digital
Dunia politik kita hari ini tak lebih dari sekadar lokalisasi pencitraan. Tokoh-tokoh publik muncul dengan muka tembok, bergaya pahlawan sementara tangan mereka sibuk merogoh kantong negara. Di jagat maya, para “penyembah viralitas” dan penjahat digital memproduksi kemunafikan secara massal. Mereka adalah zombie moral yang memakan akal sehat publik demi kepuasan ego dan kekuasaan semu.

Iman sebagai Kosmetik, Ilmu sebagai Budak
Ilmu pengetahuan, yang seharusnya menjadi pelita, kini telah dikebiri untuk melegitimasi kepentingan sesaat.

Nalar sehat dianggap musuh, sementara kebohongan yang diteriakkan berulang-ulang dijadikan kitab suci. Yang paling menyayat adalah bagaimana agama dijadikan kosmetik. Di depan mimbar, mereka bicara surga seolah-olah pemegang kuncinya, namun di kegelapan malam, mereka menyusun intrik yang lebih kotor dari comberan. Iman tidak lagi menghuni hati, ia hanya mampir di bibir sebagai alat penipu rakyat.

Pemimpin Bermuka Dua: Senyum Malaikat, Syahwat Iblis
Lembaga publik kita kini disesaki oleh para aktor watak yang pandai menyembunyikan belati di balik jubah kesantunan. Mereka tersenyum lebar di baliho, sementara di balik layar, mereka menjarah masa depan generasi berikutnya. Rakyat dipaksa menonton drama kolosal yang menjijikkan, sebuah panggung sandiwara tempat kebenaran dikubur hidup-hidup oleh retorika manis yang mematikan.
Mencari Nurani di Tengah Bangkai Moralitas

Kita sedang krisis manusia, bukan krisis sumber daya. Negeri ini haus akan sosok yang berani jujur di tengah kesunyian, bukan mereka yang sibuk menabuh genderang pencitraan. Kekuasaan itu candu yang menghancurkan jika tidak diikat oleh integritas. Sejarah tidak akan mencatat seberapa banyak pengikutmu di media sosial, tapi seberapa banyak air mata yang kau seka dengan tanganmu sendiri tanpa ada kamera yang membidik.

Epilog: Cahaya Tak Butuh Tepuk Tangan
Politik hanyalah panggung sementara, sebuah halte bus menuju liang lahat. Jika bangsa ini ingin selamat, kita harus kembali ke titik nol: keheningan jiwa. Berhentilah menjadi hamba pujian. Sebab, pada akhirnya, setiap pengkhianatan akan dicatat oleh tinta langit yang tak bisa dihapus dengan uang maupun lobi politik.

> “Cahaya yang asli tidak akan pernah mengemis pengakuan. Ia hanya memancar dari hati yang sudah selesai dengan urusan duniawi.”

Semoga mereka yang saat ini mabuk kekuasaan segera sadar, sebelum rakyat yang mereka hianati benar-benar terbangun dari tidurnya.


Eko Puguh Prasetijo
— Pimred rorokembang

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami,sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12)Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: trikaryabangkit@gmail.com atau WA +6287788410108 Terima kasi

Loading

banner 325x300