
Roro Kembang- Tulungagung – Methik pari merupakan tradisi upacara adat yang dilakukan sejak dahulu dan sebagian masyarakat masih setia melakukannya. Methik pari dilakukan di salah satu area sawah Desa Krosok Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung.
Hadir dalam acara tersebut camat sendang Imam suwoyo, POLSEK DANRAMIL, Kepala Desa sa krosok serta perangkat nya, BPD, RT, RW, tokoh masyarakat, serta dari UPTD Dinas pertanian. Acara tersebut diselengarakan di Dusun Nglungur Dukuh Sempurjo, pada Kamis 01/03/2021.
Methik pari ialah istilah jawa yang berarti memetik dengan kata lain dapat disebut juga dengan memanen. Tradisi Methik Pari ini ritual simbolis sebagai rasa syukur masyarakat Desa Krosok untuk Sang Maha Pencipta.
Tradisi methik pari dilakukan setiap masa tanam akan memasuki masa panen. Sedangkan pelaksanaan daerah satu dengan daerah lainnya punya tata cara yang berbeda dalam melakukan upacara tersebut. Untuk tradisi methik pari di wilayah Desa Krosok Kecamatan Sendang, kenduri dilakukan di sawah yang padinya akan dipanen. Adapun jenis makanan yang digunakan ketika kenduri atau slametan (syukuran dengan menggunakan adat desa) yaitu nasi dan ayam ingkung, pisang raja. Ada pula yang menyediakan jajanan khas Jawa mulai dari jenang, wajik dan jadah.

Hal lain yang tidak boleh dilewatkan ialah tentang warga yang mendapat peran sebagai tukang masak. Menurut kepercayaan, si tukang masak harus dalam kondisi yang suci dari hadast besar dan selama memasak hingga makanan tersaji tidak diperkenankan untuk dicicipi. Tradisi ini selain sebagai cara untuk menyampaikan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan berkah yang telah diberikan. Tradisi Methik Pari ini juga digunakan sebagai tolak bala untuk menghindari dari berbagai gangguan dan cobaan, serta harapan supaya hasil panen pun melimpah.
Seperti apa yang di lakukan di Desa Krosok Kecamatan Sendang sudah merupakan agenda rutin setiap tahun, dengan cara masal seluruh warga tokoh masyarakat di libatkan untuk kegiatan ini. Dan acara semacam ini sudah di laksanakan yang ke tiga kalinya di Desa Krosok, namun kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang cukup meriah, di karenakan masih adanya pandemi virus Covid 19. Tahun sebelumnya di adakan pentas seni yang ada di wilayah Desa Krosok hingga malam hari.
Proses kali ini di awali dengan pawai berasal dari rumah Wolo selaku warga Sempurjo, iring iringan ini membawa uborampen yang telah di sediakan oleh ibu ibu sebelumnya , yang di bawa ke sawah dan di iringi oleh warga yang hadir dalam acara tersebut. Sedangkan yang membawa sesajen itu dilakukan tokoh yang di tuakan di lingkungan yakni Mbah Lasiman, sesampainya di sawah yang sudah di siapkan peralatan ritual berupa tarup orok orok dan lainya. Semua peralatan yang di bawa di taruh di tempat tersebut, dan mulai lah ritual dan doa di panjatkan di situ yang intinya rasa syukur pada sang pencipta yang telah memberi rejeki lewat hasil panen yang di tunggu selama ini. Beberapa saat acara tersebut selesai di lanjutkan dengan kenduri di tenda yang telah di pasang sebelumnya, dengan khidmad seluruh hadirin mendengarkan apa yang di sampaikan oleh sesepuh desa saat ngujubne/ngajatne.
Seusai acara atau penyampaian ngajatne seluruh makanan yang telah disiapkan berupa ingkung dan nasi gurih, nasi Kuning serta beberapa jenis makananan lainya nya di Santab bersama sama, Sementara itu Kepala Desa krosok Susanto saat di konfirmasi menjelaskan, “agenda tersebut sudah yang ketiga kalinya.
Sebelumnya dirasakan denganmeriahberhubungsaat ini kita semua tahu dalam kondisi masa pandemi acara tidak semeriah dulu dan juga acara tersebut akan diagendakan rutin setiap Tahun,untuk menjaga kearipan Lokal yang ada di Desa ini dan untuk menyelenggarakan acara semacam ini di anggarkan dengan mengunakan dana desa, dan hal ini sudah di ijinkan oleh pihak DPMD,dan tidak menyalai prosedur, pungkasnya. Pewarta Teguh santoso


















