ROROKEMBANG TULUNGAGUNG – Sebuah unggahan status WhatsApp dari Bupati Tulungagung, H. Gatut Sunu Wibowo, S.E., M.E., mendadak menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Bukan tanpa alasan, orang nomor satu di Tulungagung tersebut secara terbuka melontarkan kritik pedas terkait kondisi kesehatan kawanan rusa yang menghuni area Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso.
Ironisnya, fakta memprihatinkan ini terungkap bukan dari laporan kedinasan, melainkan dari komentar spontan seorang balita berusia tiga tahun yang tak lain adalah cucu sang Bupati sendiri.
Kejadian bermula saat Bupati sedang menghabiskan waktu bersama cucunya di area pendopo. Dalam unggahan tersebut, Bupati menceritakan momen menyesakkan saat sang cucu menunjuk kawanan rusa yang tampak tidak bertenaga.
“Cucu saya bilang, ‘Mam, hewannya kok kurus-kurus,’ lalu minta dibelikan wortel untuk diberikan ke rusa,” tulis Bupati dalam statusnya yang bernada kecewa.
Ucapan polos anak kecil tersebut bak tamparan keras bagi tata kelola perawatan satwa di pusat pemerintahan daerah. Rusa-rusa yang seharusnya menjadi ikon keasrian dan kemegahan pendopo justru terlihat memprihatinkan dan kurang terawat, sebuah pemandangan yang kontras dengan wajah resmi kantor pemerintahan.
Kritik Bupati semakin menajam saat ia menyinggung soal pendanaan. Ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Tulungagung sebenarnya telah mengalokasikan anggaran rutin yang cukup signifikan untuk kebutuhan pakan hewan, yakni mencapai sekitar Rp600.000 per hari.
Besaran angka tersebut dinilai lebih dari cukup untuk menjamin asupan nutrisi berkualitas bagi kawanan rusa dan hewan lainnya di lokasi tersebut. Namun, realita di lapangan justru memicu tanda tanya besar mengenai efektivitas distribusi anggaran tersebut.
“Anggaran sudah saya sediakan tiap hari, tapi kondisi hewan-hewan itu masih memprihatinkan,” tegas Bupati dalam unggahannya.
Pernyataan ini secara tidak langsung membuka ruang dugaan adanya kebocoran atau malpraktik dalam rantai birokrasi pengadaan pakan. Publik pun mulai mempertanyakan: ke mana larinya dana ratusan ribu rupiah setiap harinya jika satwa-satwa tersebut justru terlihat kelaparan?
Kondisi ini dianggap sebagai cerminan buruk dari manajemen pengawasan di lingkup internal pendopo. Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai bahwa persoalan ini tidak boleh berhenti pada sekadar status media sosial. Diperlukan langkah konkret berupa audit menyeluruh terhadap penggunaan anggaran pakan hewan.
Aspek kesejahteraan hewan (animal welfare) di fasilitas publik seharusnya menjadi etalase tata kelola yang baik. Ketidakmampuan mengelola hal kecil seperti asupan pakan satwa dikhawatirkan menjadi indikasi adanya persoalan manajemen yang lebih besar di belakang layar.
Masyarakat kini menunggu respons cepat dari dinas terkait yang bertanggung jawab atas pemeliharaan fasilitas dan satwa di pendopo. Penataan ulang sistem pengawasan dan transparansi pelaporan penggunaan dana harian mendesak dilakukan agar simbol kebanggaan warga Tulungagung ini tidak lagi menjadi saksi bisu ketidakefisienan birokrasi.
Sentilan dari seorang anak kecil telah membuka mata banyak pihak: bahwa kejujuran seringkali datang dari mata yang paling polos, dan sudah saatnya sistem yang ada berbenah diri.
Pewarta: T Santoso
Catatan Redaksi: Sesuai dengan UU Pers No. 40 Tahun 1999, pihak yang merasa berkepentingan atau dirugikan dengan pemberitaan ini memiliki hak jawab dan hak koreksi. Sanggahan dapat dikirimkan ke email: trikaryabangkit@gmail.com atau WA: +62 877-8841-0108.


















