Rorokembang Tulungagung – DPRD Tulungagung mengundang hanya beberapa awak media Selasa (26/04/2022) pukul 20:00 WIB. Acara digelar di Hall Pancanaka Waroeng Bima, jalan. Dr. Sutomo no. 102 Kabupaten Tulungagung. Dalam acara NONGKRONG BARENG DEWAN BERSAMA INSAN PERS UNTUK KEMAJUAN TULUNGAGUNG LEBIH BAIK.
Dengan tema “Membangun sinergi dari semuai Institusi”. Dalam acara tersebut, menuai kontrofersi dikalangan awak media Tulungagung, dikarenakan kurangnya koordinasi yang bagus antara Ketua Dewan dan Sekwan. Undangan dalam acara tersebut hanya ditujukan ke 37 awak media yang dikoordinir, padahal jumlah awak media Tulungagung berjumlah ratusan.
Undangan yang dilayangkan melalui pesan singkat Whatsapp (WA) atas perintah Ketua Dewan Marsono, ditujukan kepada 37 nama awak media yang diundang melalui Sekwan.
Disini terkesan ada diskriminatif, seperti yang dituturkan salah satu wartawan senior yang berada di luar yang turut hadir Suroto (Nusantara pos) dalam keterangannya ” Kalau semacam ini terstruktur dan sesuai undangan berarti bahasa undangan dari Bapak Marsono menganggap kita bukan wartawan alias para tamu yang tidak diundang, hal ini merupakan diskriminatif terhadap pelaku media di Tulungagung,” paparnya.
Dalam acara tersebut banyak rekan media yang merasa kecewa salah satunya Adnan “Karena sekarang ini dalam nuansa Ramadhan, seharusnya semua wartawan diundang, apalagi atas nama Dewan. Sebab media juga berbadan hukum. Kenapa yang diundang nama -nama itu saja, apakah awak media yang lain merasa di anak tirikan, profesinya sama dalam UU nomor 40 tahun 1999 ini sebagai pedoman bagi wartawan, apakah ada UU lain”, dalam akhir ucapannya.
Berlanjut rasa kecewa yang diungkapkan oleh salah satu wartawan senior dan juga ketua PWBN Oki “Saya nyatakan jangan petak petak, kami sudah bersatu berjuang untuk membangun Tulungagung tercinta ini”, ucap penuh semangat
Dalam acara tersebut, tempat sengaja dibuat penuh, staf Sekwan yang bernama Susi, menghampiri awak media untuk bertanda tangan. Akan tetapi semua menolak, sebagai pernyataan sikap telah di diskriminasi,”Monggo tanda tangan, monggo tanda tangan”, pinta Susi.
Ketika para awak media itu tidak merespon ajakan Susilowati untuk tanda tangan. Dia kembali ke ruangan, kemudian datanglah Hanif Dwisatria salah satu tokoh Sekber, mengajak dan berteriak,”Pulang semua pulang, jangan membuat malu wartawan, mengharap uang amplop 200 ribu rela menunggu ,harga dirimu dimana,” ajak Hanif berapi-api penuh kekesalan dan kekecewaan.
Sementara itu Ketua DPRD Tulungagung, Marsono SSos, menyatakan nongkrong bareng bersama wartawan bertujuan untuk membangun kebersamaan dalam memajukan Kabupaten Tulungagung. “Nantinya kami juga akan melakukan hal yang sama dengan yang lainnya. Semisal LSM, penggiat kebudayaan dan lainnya. Semuanya untuk kemajuan Tulungagung,” ujarnya.
Menurut marsono , dengan acara nongkrong bareng itu juga diharapkan ada masukan-masukan dari wartawan untuk semakin memajukan Kabupaten Tulungagung. “Kami minta masukan. Tetapi dengan tidak mencari kesalahan,”
Saat di konfirmasi mengenai undangan yang tercantum dalam absensi panitia tidak semua wartawan di tulungagung di undang
Marsono menjelaskan Mengingat kapasitas dan lokasi yang ada tidak mampu menampung, akan tetapi bagi para wartawan yg hadir dalam acara tersebut meskipun tidak dapat undangan tidak di bedakan fasilitasnya baik konsumsi atau hal lainya.
Dan sebelum acara di mulai saya sudah mengatakan bahwa yg hadir tanpa ada nama di daftar absen itu adalah tamu saya. Jelas nya
Selain itu juga bu Susi juga memberikan kertas untuk mengisi daftar hadir akan tetapi para teman teman pada menolak. Padahal niat kami dari awal membangun sinergi dengan teman teman media tidak mebedakan dari media apa pungkas nya.
Pewarta T Santoso


















