ROROKEMBANG TULUNGAGUNG — Dinas Peternakan Tulungagung terkesan lamban menangani penyebaran virus penyakit mulut dan kuku atau PMK.
Saat ini serangan PMK semakin meraja lela di beberapa wilayah di Kabupaten Tulungagung.
Namun anehnya disaat para peternak sapi membutuhkan perhatian khusus dari Dinas Peternakan, hingga kini belum terlihat kerja nyata dinas tersebut.
Saat ini warga yang memiliki sapi bingung, pasalnya sudah beberapa cara penyembuhan dilakukan namun belum ada hasilnya.
Di kecamatan sendang misalnya ribuan sapi terjangkit penyakit mulut dan kuku atau PMK. Bahkan sudah banyak yang di sembelih paksa dan yang mati. Kondisi ini sudah meresahkan warga pemilik sapi. Sementara petugas dari Dinas peternakan hanya melakukan sosialisasi.
Dan hanya Penyaluran vaksin dari Kementerian . Itupun tidak merata.padahal kebutuan vaksin sangat di perlukan dalam kondisi seperti ini. terdengar kabar akan di gelontorkan dana mencapai 700 juta untuk penanganan PMK nyatanya sampai saat ini belum ada kenyataan nya,
Sementara itu tim Satgas relawan perawatan dari unsur peternak dan pengelolaan KUD TANI WILIS SENDANG yang di bentuk oleh koprasi tani wilis yang ada di kecamatan Sendang berangotakan sekitar seratus sama sekali belum pernah dapat bantuan dari pemerintah, padahal peran satgas pemberantasan PMK ini sangat membantu para peternak yang sapinya terinveksi virus PMK,
Sementara Ditempat lain dari koprasi jasatirta KOPTAN yan juga merupakan koprasi bergerak di bidang susu juga membentuk satgas pemberantsan PMK memberikan keterangan yang sama selama ini hanya menerima bantuan vaksin dari kementerian itupun tidak merata , sedangkan pemerintah daerah Tulungagung belum ada gerakan nyata untuk mengatasi terjadinya wabah PMK,
Sedangkan peternak yang di luar koprasi sama sekali belum dapat bantuan dari pemerintah daerah, padahan korban PMK juga banyak,
Harapan peternak pemerintah daerah segeralah hadir di tengah tengah duka yang di rasakan dan mengurangi beban.
Warga selama ini banyak berharap dari petugas Dinas Peternakan Tulungagung ketika sosialisasi namun nyatanya petugas jarang membawa obat.
Pewarta T Santoso


















