banner 728x250

 “Negara Dipimpin Monyet Pemilih Pisang”

banner 120x600
banner 468x60

 

 

banner 325x300

Oleh : HADI PURNOMO

 

Negara ini hari ini ibarat kandang besar di mana yang diberi mandat memilih adalah monyet. Di hadapannya ditaruh dua pilihan: pisang matang di tangan dan uang di atas meja.Monyet, sesuai nalurinya, akan langsung menyambar pisang. Kenapa? Karena pisang bisa langsung dimakan, mengenyangkan perut sekarang, menghilangkan lapar hari ini.Sementara uang? Bagi monyet, uang hanyalah kertas dan logam yang tidak bisa dikupas, tidak bisa dikunyah, tidak memberi rasa kenyang seketika.

 

Padahal, kalau monyet mau berpikir satu langkah lebih jauh, uang itu justru bisa membeli bukan cuma satu pisang, tapi kebun pisang. Uang bisa dipakai membangun lumbung, membeli bibit, mengatur sistem supaya pisang tidak pernah habis. Tapi monyet tidak sampai di sana. Instingnya berhenti pada kepuasan sesaat. Terjemahan ke realitas pemerintahan:Pisang = Kebijakan populis jangka pendekSubsidi yang tidak terukur, bansos yang ditebar menjelang pemilu, proyek mercusuar yang kelihatan megah tapi tidak produktif. Enak dirasakan hari ini, tapi besok habis dan tidak meninggalkan nilai tambah.

Uang = Kebijakan struktural jangka Panjang Reformasi birokrasi, investasi pendidikan, penguatan hukum, pembangunan industri hilir. Tidak langsung terasa nikmatnya, butuh waktu bertahun-tahun. Tapi inilah yang bisa membuat “kebun pisang” negara tumbuh terus. Masalahnya: Pemimpin yang dipilih sering kali masih berpikir seperti monyet.Mereka memilih apa yang cepat memberi tepuk tangan, bukan apa yang susah tapi menyelamatkan bangsa 20 tahun ke depan.Hasilnya, APBN habis untuk konsumsi, bukan investasi.

Utang bertambah, tapi fondasi ekonomi tidak kuat.

Opininya:

Negara ini tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah pemimpin yang berani menahan diri untuk tidak memakan pisang sekarang, demi menanam kebun pisang untuk anak cucu.

Selama yang duduk di kursi kekuasaan masih memilih “pisang di tangan” daripada “uang yang bisa membeli masa depan”, maka kita akan terus berputar di siklus yang sama: lapar, dikasih pisang, kenyang sebentar, lapar lagi.

Pertanyaannya sekarang: kapan kita berhenti memilih monyet, dan mulai mencari manusia yang mau berpikir tentang kebun?

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:

  • Email: trikaryabangkit@gmail.com

  • WhatsApp: +62 877-8841-0108

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *