(Korwil rorokembang.com)
JEMBER, Rorokembang.com – Target pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan nasional dikhawatirkan hanya akan menjadi angan-angan belaka. Pasalnya, kondisi riil yang dihadapi petani di tingkat akar rumput sering kali tidak tergambar secara utuh dan gagal tersampaikan hingga ke meja pembuat kebijakan.
Hal ini dirasakan langsung oleh Agus, salah seorang petani asal Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas penurunan drastis hasil panen padi pada Musim Tanam (MT) II tahun ini yang memukul perekonomian para petani setempat.
”Pada MT I lalu, kami masih bisa mendapat sekitar 650 kilogram Gabah Kering Panen (GKP). Namun pada MT II ini, hasilnya anjlok drastis menjadi hanya enam sak atau sekitar 250 kilogram GKP saja,” ungkap Agus saat ditemui di lahan pertaniannya.
Anjloknya hasil panen ini, lanjut Agus, berbanding terbalik dengan biaya produksi yang terus membengkak. Ia menjelaskan bahwa serangan hama tikus, wereng, burung, dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lainnya menjadi biang kerok utama penyusutan hasil panen. Kondisi ini semakin diperparah oleh dampak cuaca ekstrem dan ancaman kekeringan yang mulai melanda kawasan tersebut.
Agus menilai, fakta pahit di lapangan ini sangat kontras dengan narasi peningkatan kesejahteraan petani yang kerap disuarakan di ruang publik. “Kami berharap evaluasi dan kebijakan pertanian benar-benar didasarkan pada fakta di lapangan, bukan sekadar data di atas kertas. Solusi dari pemerintah harus menjawab persoalan nyata yang kami hadapi,” tegasnya.
Pendampingan Ekstra di Tengah Kepungan Cuaca
Mengonfirmasi keluhan tersebut, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Candijati, Ghina, membenarkan adanya kendala berat yang menekan produktivitas petani saat ini. Ghina menekankan bahwa para penyuluh tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi krisis ini.
”Kami dari penyuluh pertanian terus melakukan pendampingan secara intensif, memberikan edukasi, serta membantu petani meminimalkan risiko gagal panen. Namun harus diakui, faktor alam seperti perubahan iklim dan masifnya serangan OPT masih menjadi tantangan terbesar yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas,” jelas Ghina.
Realita di Desa Candijati menjadi alarm bagi para pemangku kepentingan. Keberhasilan mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan nasional tidak bisa hanya bertumpu pada perluasan lahan tanam atau target produksi teoretis.
Dibutuhkan intervensi dan penyelesaian masalah mendasar dari hulu ke hilir, mulai dari pengendalian hama terpadu, strategi adaptasi perubahan iklim, hingga efisiensi biaya produksi. Tanpa mendengarkan suara riil para petani di lapangan, tujuan ketahanan pangan yang berkelanjutan akan sangat sulit untuk diwujudkan.
Pewarta : Jumantoro
Catatan Redaksi :
Berita ini disusun berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung di lapangan. Rorokembang.com menjunjung tinggi prinsip keberimbangan (cover both sides), akurasi, dan independensi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers serta Kode Etik Jurnalistik. Redaksi siap melayani Hak Jawab dan Hak Koreksi dari pihak-pihak yang berkepentingan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
















