banner 728x250
JEMBER  

Petani Jember Keluhkan Hasil Panen MT 2 Turun, Cuaca Ekstrem dan Hama Jadi Kendala

banner 120x600
banner 468x60

Ditulis oleh: Jumantoro, Kabiro Rorokembang.com

 

banner 325x300

     ROROKEMBANG JEMBER — Sejumlah petani padi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengeluhkan penurunan hasil panen pada Musim Tanam atau MT 2 tahun ini. Mereka menyebut penurunan tersebut dipengaruhi oleh cuaca ekstrem serta serangan organisme pengganggu tanaman, seperti wereng, tikus, dan burung.

Keluhan tersebut muncul di tengah perhatian pemerintah terhadap penguatan ketahanan pangan nasional. Swasembada pangan menjadi salah satu agenda penting pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, kondisi yang dialami sebagian petani di lapangan menunjukkan bahwa produksi padi masih menghadapi berbagai tantangan.

Agus, salah satu petani di Desa Candijati, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, mengatakan hasil panennya pada MT 2 tahun ini turun dibandingkan musim sebelumnya. Menurut Agus, sawah yang biasanya mampu menghasilkan sekitar 7 kuintal gabah kering panen pada musim hujan, kini hanya menghasilkan sekitar 2,5 kuintal.

“Musim panen saat ini rugi. Biasanya sawah saya menghasilkan 7 kuintal gabah kering panen saat musim hujan, sekarang hanya dapat 2,5 kuintal,” kata Agus.

Keluhan serupa juga disampaikan Abdul Faseh, salah satu ketua kelompok tani di Kelurahan Keranjingan, Kecamatan Sumbersari. Ia mengatakan lahan pertanian di wilayahnya mengalami serangan tikus dan wereng. Akibatnya, sebagian petani disebut mengalami gagal panen dan harus melakukan tanam ulang pada MT 2.

“Lahan sekitar 75 hektare terserang tikus dan wereng. Akibatnya petani gagal panen dan harus tanam ulang,” ujar Abdul Faseh.

Menurut keterangan petani, penurunan hasil panen pada MT 2 di sejumlah titik diperkirakan berada pada kisaran 30 hingga 50 persen. Namun, angka tersebut masih merupakan keterangan awal dari petani dan belum dapat disebut sebagai data resmi penurunan produksi padi di Kabupaten Jember.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena produktivitas petani merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan. Selain ketersediaan cadangan beras, keberhasilan produksi di tingkat sawah juga menentukan stabilitas pasokan gabah dan beras di daerah.

Pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan instansi terkait diharapkan dapat melakukan pendataan lapangan terhadap lahan yang terdampak, termasuk wilayah yang terserang wereng, tikus, burung, maupun terdampak perubahan cuaca. Pendataan tersebut penting agar penanganan hama, bantuan sarana produksi, dan dukungan bagi petani yang melakukan tanam ulang dapat dilakukan secara tepat.

Hingga naskah berita ini ditulis, Rorokembang.com belum memperoleh konfirmasi resmi dari dinas pertanian setempat, Bulog, maupun Kementerian Pertanian terkait total luas lahan terdampak, angka resmi penurunan produksi, serta langkah penanganan yang telah atau akan dilakukan.

Berita ini disusun berdasarkan keterangan petani dan ketua kelompok tani di lapangan. Redaksi tetap membuka ruang klarifikasi dan tanggapan dari pihak-pihak terkait sesuai prinsip keberimbangan, verifikasi, dan hak jawab sebagaimana diatur dalam UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:

Email: trikaryabangkit@gmail.com

WhatsApp: +62 877-8841-0108

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *