ROROKEMBANG TULUNGAGUNG – Tren penggunaan sound horeg dalam kegiatan karnaval semakin diminati kalangan pemuda. Demi tampil maksimal dan ikut memeriahkan karnaval, sejumlah pemuda bahkan rela mengeluarkan biaya hingga puluhan juta rupiah hanya untuk menyewa perangkat sound system.
Hal tersebut salah satunya dilakukan para pemuda Poklimo, Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Mereka menyiapkan anggaran sekitar Rp20 juta untuk menyewa sound horeg yang akan digunakan dalam mengikuti kegiatan karnaval.
Biaya tersebut khusus untuk kebutuhan sound system dan belum mencakup berbagai keperluan lainnya, seperti kostum, konsumsi, serta perlengkapan pendukung selama mengikuti karnaval.
Salah seorang anggota Poklimo, Nurkolis, mengatakan biaya sewa sound tersebut mencapai sekitar Rp20 juta.
“Untuk sewa sound saja sekitar Rp20 juta. Itu belum termasuk kostum dan konsumsi,” ujar Nurkolis.
Bagi para pemuda Poklimo, keikutsertaan dalam karnaval tidak sekadar menjadi ajang untuk tampil di sepanjang jalan. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan, menyalurkan kreativitas, sekaligus menunjukkan kekompakan kelompok.
Penggunaan sound horeg dengan kapasitas besar pun kini tidak hanya ditemui dalam berbagai pertunjukan musik atau hiburan masyarakat. Tren tersebut mulai menjadi bagian dari penampilan sejumlah peserta dalam kegiatan karnaval di berbagai daerah.
Di sisi lain, penggunaan perangkat sound berkapasitas besar tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Aspek kenyamanan masyarakat, ketertiban lalu lintas, serta tingkat kebisingan perlu menjadi perhatian agar kemeriahan karnaval tidak mengganggu warga yang berada di sepanjang rute.
Bagi pemuda Poklimo, biaya yang dikeluarkan menjadi bagian dari semangat mereka untuk ikut memeriahkan karnaval. Selain hiburan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk berkumpul, menjaga kekompakan, dan menikmati kebersamaan bersama anggota kelompok.
Dengan anggaran sekitar Rp20 juta hanya untuk menyewa sound, ditambah kebutuhan kostum dan konsumsi, fenomena ini menjadi gambaran besarnya antusiasme anak muda dalam mengikuti tren karnaval yang semakin meriah.
PEWARTA [ TEGUH SANTOSO ]
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:
Email: trikaryabangkit@gmail.com
WhatsApp: +62 877-8841-0108

















