banner 728x250
JEMBER  

TEPUK TANGAN DIBALIK FAKTA MBG  (MENONTON BOLA GOKIL)

banner 120x600
banner 468x60

 

Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H.,C.Med

banner 325x300

Akademisi Fakultas Hukum Unej

 

Saat final 2026 Piala FIFA, sontak dunia terbagi dua. Representasi Argentina atau pendukung lawannya. Digelar di stadion New Jersey – Amerika. Sebuah pencapaian kasat mata dua negara, Spanyol dan Argentina. Sungguh luar biasa. Mata dunia tertuju pada kedua negara. Yel-yel dua seteru terus menggelora. Teriak menggantung asa tidak saja di tempat berlangsung acara. Ekspresi heroik fanatis benar-benar menggila. Merata hampir di semua pelosok negara. Dari di lingkungan rukun tetangga, alon-alon kota hingga cafetaria.

 

Sepak bola memang bukan tontotan biasa. Apalagi lingkup piala dunia. Sementara orang menikmati sebatas ikut tetangga. Sebagian tertarik karena pasang taruhan dengan sesama. Sisi lain terhisap karena larut euforia. Ada juga sekedar to show seolah pengamat bola. Memamerkan pemahaman tak ubahnya mantan atlit sepak bola. Bicara rule permainan setara dengan pengadil di lapangan bola. Memposisikan diri leading dalam lalulintas GWA. Merasa paling tahu melebihi dukun Afrika. Sepak bola ternyata mampu mengeksplorasi psikologi manusia.

 

Lepas dari beragam ulasan, sepak bola pada prinsipnya menyimpan pesan. Tidak sebatas peristiwa dua tahunan. Ada pesan di balik tepuk tangan. Tepuk tangan adalah tindakan kedua tangan. Saling bertabrakan untuk menekan. Meledakkan gelembung udara kecil di antara telapak tangan. Menghasilkan suara khas yang terus berulang. Tepuk tangan merupakan ekspresi kejiwaan. Mewakili bentuk fisik sebagai wujud kegembiraan. Tepuk tangan juga dikatakan bentuk aklamasi. Menyatukan siapapun yang terafiliasi. Pendukung Spanyol atau Argentina, tepuk tangan adalah Hak Asasi. Tidak ada satupun aturan menghalangi. Tepuk tangan menyatukan manusia dalam momentum aksi. Mengikat emosi kolektif berbasis orientasi.

 

Di stadion New Jersey Amerika, tepuk tangan merupakan manifestasi kejujuran. Ribuan orang dalam diametral dua tim kesebalasan. Memiliki tujuan saling berseberangan. Kalah atau menang. Mereka bertepuk tangan spontan. Tanpa diperintah atau diancam hukuman. Riuh tepuk tangan tak lebih sebagai panggilan karena magnit keadaan. Sarat kejujuran dan bebas ditampakkan. Tak perlu influencer yang bekerja karena motiv perut sebagai panggilan.

 

Sejak Kaisar Heraclius (Romawi) berkuasa, tepuk tangan telah menjadi komoditas tradisi kekaisaran. Kaisar sengaja menyewa penonton untuk bertepuk tangan. Dengan harapan menanamkan tekanan guna mengintimidasi pihak lawan. Terutama ditujukan kepada raja bar-bar sebagai pertimbangan. Kenyataan demikian dilakukan saat terjadi pertemuan. Cara serupa juga pernah digunakan oleh Kaisar Nero untuk merekayasa dukungan. Tak kurang dari lima ribu orang. Diperintah untuk bertepuk tangan sebagai ilusi acara kerajaan.

 

Tidak berlebihan jika dikatakan, tepuk tangan adalah taktik. Bagian dari strategi politik. Realitas demikian terus berkembang dalam beragam ranah bahkan dibutuhkan sebagai intrik. Manajer teater menyewa orang-orang bayaran guna membangun kesan eksotik. Pun juga di era kekinian. Tiap acara hiburan, produser selalu menyewa penonton bayaran. Dibayar sekedar tertawa dan tepuk tangan. Masyarakat pertelevisian pada umumnya sudah paham. Tepuk tangan tengah menjadi komponen industri yang tak bisa dielakkan. Tepuk tangan sengaja diadakan agar acara dibanjiri iklan.

 

Ternyata di ranah politikpun juga demikian. Bukan dulu, tapi sekarang. Mungkin juga akan terus berlangsung tanpa berkesudahan. Tepuk tangan dikelola oleh mesin politik. Diekskusi oleh roda birokrasi. Disamarkan oleh kelompok-kelompok kepentingan. Dilakukan untuk membangun habitat seolah-olah. Manipulatif, guna membangun kesan demokrasi meskipun faktanya hanya basa-basi. Bergerak untuk mendulang citra konstitusional meskipun pada dasarnya tidak rasional.

 

’…Masyarakat internasional saat ini tertuju pada satu titik : Akumulasi Perjuangan menuju Juara Piala FIFA dan serunya dinamika Menonton Bola Gokil (MBG). Sementara engkau masih berkutat untuk menjawab persoalan muskil Makan Bergizi Gratis (MBG). Sama-sama MBG, namun tidak serupa maknanya….’. Demikian kata Abraham Maslow, menutup obrolan sembari menuntaskan sebotol Heineken dari kerumunan Nobar yang mayoritas maniak kopi.

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:

Email: trikaryabangkit@gmail.com

WhatsApp: +62 877-8841-0108

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *