Editorial Rakyat
Oleh : Eko Puguh Prasetijo
Rakyat Tulungagung ini sebenarnya sabar. Terlalu sabar malah. Kalau pupuk mahal, petani masih sabar. Kalau dagangan sepi, pedagang masih sabar. Kalau harga kebutuhan naik, ibu-ibu masih sabar. Kalau upah habis sebelum akhir bulan, buruh masih sabar. Kalau jalan rusak, orang masih bilang, “Ya mungkin belum ada anggaran.”
Kalau pelayanan lambat, orang masih bilang, “Ya sabar saja.”
Semuanya sabar.
Tapi pertanyaannya, sampai kapan rakyat yang disuruh sabar?
Kenapa yang selalu diminta mengerti itu rakyat? Kenapa yang selalu diminta memaklumi itu rakyat? Padahal yang membayar negara ini juga rakyat. Yang bayar pajak rakyat, yang belanja di pasar rakyat, yang beli bensin rakyat, yang bayar PBB rakyat. Yang setiap hari muter uang di Tulungagung juga rakyat.
Maka jangan salah kalau rakyat bertanya. Kalau sudah digaji dari uang rakyat, kerjanya bagaimana? Rakyat tidak minta disembah. Tidak minta diperlakukan seperti pejabat.
Rakyat cuma ingin satu. Kalau datang ke kantor pelayanan, jangan dipersulit. Itu saja. Kalau mengurus surat, jangan dibuat muter. Kalau bertanya, jangan dijawab dengan muka yang seolah-olah rakyat datang membawa masalah. Kalau mengadu, jangan dianggap mengganggu.
Karena yang datang itu bukan pengemis. Mereka pemilik daerah ini. Gedung kantor itu dibangun dari uang rakyat. Lampunya dari uang rakyat, AC-nya dari uang rakyat, mobil dinas dari uang rakyat, seragam dari uang rakyat.
Gaji dari uang rakyat, tunjangan juga dari uang rakyat. Jadi tidak salah kalau rakyat ingin melihat hasilnya. Karena rakyat tidak bisa makan dari banner. Rakyat tidak kenyang oleh spanduk. Rakyat tidak hidup dari seremoni. Rakyat tidak hidup dari foto-foto kegiatan.
Yang dibutuhkan rakyat itu sederhana: pelayanan cepat, jalan yang bagus, sekolah yang layak, puskesmas yang ramah, pasar yang hidup, UMKM yang dibantu sungguh-sungguh, informasi yang jelas. Itu saja. Tidak aneh, tidak muluk-muluk.
Dan tulisan ini bukan sedang memukul semua ASN. Banyak ASN yang baik. Banyak yang pulang malam. Banyak yang benar-benar melayani. Mereka harus dihormati. Tapi jangan karena banyak yang baik, lalu yang malas harus didiamkan. Jangan karena ada yang bekerja, lalu yang hanya menikmati jabatan ikut merasa aman.
Karena rakyat juga punya mata. Rakyat tahu siapa yang bekerja. Rakyat tahu siapa yang cuma pintar bicara. Rakyat tahu siapa yang melayani dengan hati. Dan rakyat juga tahu siapa yang paling rajin hadir kalau ada kamera.
Kalau rakyat telat bayar kewajiban, cepat sekali ditagih. Kalau rakyat salah administrasi, cepat sekali disuruh melengkapi.
Tapi kalau pelayanan buruk, siapa yang menagih? Kalau rakyat dipingpong dari meja ke meja, siapa yang bertanggung jawab? Kalau ada yang hanya menikmati jabatan, siapa yang berani mengevaluasi?
Jangan terus rakyat disuruh mengerti. Sekali-kali birokrasi juga belajar mengerti rakyat. Jangan terus rakyat yang diminta sabar. Sekali-kali birokrasi yang belajar merasa malu. Karena jabatan itu bukan warisan. Jabatan itu amanah. Kursi itu bukan milik pribadi, kursi itu titipan rakyat.
Dan jangan lupa, yang membuat kursi itu ada bukan pejabat, bukan elite, bukan kelompok tertentu. Tapi rakyat: petani, buruh, pedagang, sopir, guru, tukang becak, nelayan, pelaku UMKM, ibu rumah tangga, anak-anak muda yang setiap hari berjuang mencari pekerjaan. Semua ikut membiayai negara ini.
Karena itu rakyat tidak sedang minta dihormati. Rakyat hanya minta jangan dilupakan. Kami tidak anti-ASN, kami tidak benci pemerintah. Kami hanya capek kalau terus disuruh sabar, kami hanya capek kalau terus diminta mengerti. Kami hanya capek kalau yang berubah cuma slogan. Karena rakyat tidak butuh kata-kata yang terlalu indah. Rakyat butuh hasil.
Kalau memang digaji dari uang rakyat, bekerjalah sungguh-sungguh untuk rakyat. Kalau menerima tunjangan, tunjukkan manfaatnya kepada rakyat. Kalau duduk di kursi pelayanan, jangan lupa siapa yang membayar kursi itu.
Dan kalau rakyat hari ini mulai bertanya lebih keras, jangan marah. Jangan tersinggung, jangan merasa diserang. Dengarkan saja. Karena mungkin bukan rakyat yang semakin berisik, mungkin yang terlalu lama adalah suara rakyat yang tidak pernah sungguh-sungguh didengar.
Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan editorial sebagai bentuk kritik terhadap kualitas pelayanan publik dan budaya birokrasi yang tidak responsif. Kritik tidak ditujukan kepada seluruh ASN, melainkan terhadap praktik pelayanan yang buruk. Redaksi menghormati ASN yang bekerja dengan jujur dan profesional serta membuka ruang hak jawab dan koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.


















