[ Suvenir Buat Ketua ICMI Jatim Terpilih ]
Oleh :
Dr.Aries Harianto, S.H.,M.H.,C.Med
Akademisi FH Unej dan Ketua Dewan Pakar ICMI Jember
Tepatnya di forum Muswil ICMI Jatim. Sebelum Mas Pit (Pitono) terpilih sebagai Ketua ICMI secara aklamasi, Sabtu 4 Juli 2026. Prosesi diwarnai beragam sambutan dari para pihak. Tema besarnya berupa koreksi terhadap eksklusifisme tentang menara gading. Hendak direposisi menjadi menara air. Semua peserta mengamini. Tidak ada satupun kontra argumentasi. Seolah menara gading tak lebih sebagai objek sentimen. Diadili dan semua sepakat menghakimi. Tak ada pleidoi. Gugatan terhadap menara gading, diterima absolut. Ketok palu menjadi titik mula semangat baru. Vonisnya, menara gading tiba saat dikandangkan dan ICMI berdiri dengan energi serta cara pandang baru : Menara Air. Harapannya, produk gagasan dan pemikiran ICMI, konkrit dan kontributif menjawab kebutuhan publik.
Masing-masing narsum berlomba mendiskripsikan konsepnya. Mengkonstruksi argumentasi dengan meminjam beragam pikiran dan pendapat. Dilekatkan catatan kaki, sebagai wujud pertanggungjawaban akademis. Satu diantaranya, bersumber dari buku : Knowledge Tranformation in Health and Social Care (2022). Diedit oleh John Gabbey and Andree Le May. Buku ini memuat sindiran terhadap otoritas. Memiliki relevansi dengan yang terjadi kini. Konon, banyak kebijakan di NKRI tidak beraroma akademik. Jauh dari basis scientific. Miskin metode. Tidak berorientasi impact. Terutama di daerah. ICMI tergelitik. Lantas muncul evaluasi diri.
Di mana peran ICMI ? Masihkah ICMI sebagai sarang cendekiawan yang berakar pada komitmen intelektual menyadari tugas dan tanggungjawabnya ? Melalui buku itu, seolah pekerjaan intelektual menjadi sumir. Cendekiawan berubah pandir.
ICMI Mengadili Menara Gading
ICMI seharusnya tidak seperti menara gading. Disuarakan serentak di beragam forum. Diopinikan mewarnai media. ICMI didobrak. Didaulat menanggalkan konsep menara gading. ICMI digugat agar menjalankan fungsi sebagai menara air. Bukan menara gading yang menutup mata akan realitas. ICMI ’diharamkan’ membangun jarak dengan fakta kebutuhan. Saatnya ICMI mendarat. Masyarakat menanti manfaat. Umat haus akan maslahat. Demikian nota naratif terus dihembuskan. Dari forum resmi hingga ke warung kopi. Dari giat diskusi menuju teritorial aksi.
Sebagai akademisi saya tidak sepenuhnya sepakat. Term menara gading masih relevan sebagai cara pandang. Bahkan hal demikian merupakan kebutuhan membidani sekaligus mematangkan program. Menara gading mengisyaratkan makna konsentrasi yang fokus pada proses. Bukan aspek implementasi yang membuka ruang akses. Menara gading adalah tempat aktifitas yang anti untuk dikotori dengan beragam relasi transaksional yang kontraproduktif. Apalagi pesanan politik. Fungsional karena berbasis rasional sehingga ICMI dapat menjaga dirinya agar terhindar menjadi organisasi tukang ‘stempel’.
Menara gading merupakan wahana kontemplasi guna menggali nilai-nilai di tengah disrupsi. Nilai merupakan kompas perilaku. Bukan perilaku itu sendiri. Nilai-nilai bukan agenda kinetik yang harus diterjemahkan sebagai gerak operasional kasat mata. Term menara gading memang berkonotasi pengasingan dari sisi praktis kehidupan nyata. Pengasingan semacam ini terjadi dengan harapan mendapatkan kebeningan kacamata. Menjunjung objektifitas dan memberikan preskripsi ’apa yang seharusnya’ melalui ruang isolasi.
Problemnya, menyangkut soal transformasi. Dari program menjadi kenyataan, dari kompas menjadi rambu aktifitas, dari kognisi menjadi aksi, dari aksi menjadi gizi. Proses transformasi semua ini butuh otoritas. Reposisi dari menara gading menjadi menara air, bukan semata soal objeknya. Namun ketika gading atau air masih di atas menara, dua hal tersebut tidak sontak mampu menjawab beragam problem kehidupan. Bagi saya, gading adalah refleksi tanggungjawab yang mahal untuk memproduk. Perspektif publik, air merupakan metafor produk yang memiliki korelasi ‘link and match’ dengan kebutuhan nyata khalayak ramai. Dengan kata lain, gading dan air bukanlah entitas yang saling berseberangan. Tapi saling melengkapi yang memiliki perbedaan konsekuensi. Sama halnya seperti tempat dan barang.
Menara Air Bukan Solusi
Menara air kini menjadi diskursus. Menyimpan beban harap. Namun air itu tak pernah mampu mengobati dahaga karena dalam posisi di atas menara. Butuh kran untuk disalurkan. Perlu deteksi menghindari bakteri dan alat demi efisiensi. Bahkan jika ready to apply, semua masih sebatas imaginasi jika belum memiliki legitimasi. Legitimasi tersebut adalah regulasi. Semua ini bukan ranah ICMI. Dengan demikian dapat dipahami, air dalam frase menara air, tentu bukan air yang siap konsumsi. Kodrati air ditentukan oleh otoritas yang acapkali memiliki perbedaan cara pandang. Baik menurut kamu, belum tentu baik pula menurut rezimmu.
Tak ada alasan memungkiri science atau metode science. Jerman tersungkur tak masuk 16 besar kompetisi word cup 2026. Namun tak banyak orang tahu, reputasi Jerman di lapangan hijau tak lepas dari dukungan science. Geneologis pemain, kecenderungan emosional, kecerdasan, bioritme psykis, tipikal tendangan, semuanya tidak lepas dari kajian. Bagi Jerman, science lebih dari alat ukur yang legitimate. Data menentukan artikulasi. Fakta membangun keyakinan batu uji. Ini berarti, keberadaan science sangat menentukan. Science adalah anti tesa metodis mistifikasi. Regulasi di Jerman memberi ruang akan hal ini. Jerman merupakan simbol otoritas atas upaya fungsionalisasi produk akademis.
Masih ingat dalam ingatan, ketika seorang Sahri Muhammad, intelektual UB dalam majalah Ulumul Qur’an menuangkan gagasan strategis tentang rekayasa zakat. Jika pemikiran demikian dikembangkan, kemiskinan tak lagi menjadi headline harian. Namun kembali, gagasan cerdas semacam ini tidak disambut sepenuh hati oleh otoritas. Sehingga produknya tetap di atas menara.
Bongkar Menara
Reposisi gading diganti air bukanlah solusi. Sepanjang menara itu menjadi tonggak tempat bertengger, selama itu pula beragam produk ICMI, termasuk pendidikan tinggi tidak mudah dikonsumsi. Bongkar saja menaranya agar gading dan air itu ada di ruang yang sama. Biarkan gading itu melekat dalam landscape ekologinya dan air berada dalam kanal alaminya. Di sinilah urgensi political will pemerintah. ICMI tidak berada dalam sub-ordinasi pemerintah. Bukan alat elektabilitas. ICMI dan pemerintah berada dalam skema tujuan yang sama.
Tetaplah berpolemik tentang menara gading dan menara air. Tapi saya tetap kekeh dengan pendirian. Reposisi gading ke air, bukan solusi taktis. Bukan pula konsep filosofis. Bongkar menaranya karena bangunan itu sebagai akar masalah. Lakukan negosiasi guna mencuri hati otoritas. Demikian kado buat Mas Pitono. Ketua ICMI Jatim terpilih. Berat ringan bobot sebuah amanat, terletak pada konstruksi berpikirnya dan ICMI adalah sarang para pemikir. Selamat.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:
Email: trikaryabangkit@gmail.com
WhatsApp: +62 877-8841-0108


















