banner 728x250

Jelang Muktamar ke-35 NU, Gus Ipul Nilai Gus Salam Layak Memimpin PBN

banner 120x600
banner 468x60

 

JOMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, sejumlah tokoh yang digadang-gadang menjadi calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus melakukan silaturahmi ke berbagai wilayah untuk membangun komunikasi dan memperoleh dukungan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Indonesia, maupun Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) di luar negeri.

banner 325x300

Selain menjalin komunikasi dengan berbagai elemen organisasi, para kandidat juga berupaya memenuhi persyaratan administrasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Rumah Tangga (ART) NU dan Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU.

Dalam ART NU Bab XIII Pasal 39 disebutkan bahwa calon pengurus PBNU harus memiliki pengalaman dalam struktur organisasi NU serta telah mengikuti pendidikan kaderisasi Nahdlatul Ulama. Ketentuan tersebut juga diperkuat melalui Perkum NU Nomor 3 Tahun 2025 tentang persyaratan menjadi fungsionaris pengurus Nahdlatul Ulama.

Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah tokoh yang disebut-sebut sebagai kandidat Ketua Umum PBNU terlihat mengikuti Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU). Di antaranya KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Imam Jazuli, dan KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) yang mengikuti PMKNU Cirebon Raya pada 13–17 Mei 2026.

Sementara itu, KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam mengikuti PMKNU Soloraya yang berlangsung pada 10–14 Juni 2026 di UIN Raden Mas Said Surakarta. Kegiatan tersebut juga diikuti sejumlah tokoh dan akademisi, di antaranya Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta Prof. Dr. H. Toto Suharto, Dr. H. Abdullah Faishol, serta Ketua PCNU Surakarta KH Khomsun Nur Arif.

H. Syaifuloh Yusuf, salah satu peserta PMKNU Soloraya, menilai kehadiran Gus Salam memberikan suasana positif selama proses pendidikan berlangsung.

“Keikutsertaan Gus Salam dalam PMKNU Soloraya menjadikan suasana pendidikan selama lima hari semakin hidup dan bersemangat, baik di dalam kelas, diskusi kelompok, maupun saat waktu istirahat,” ujar Syaifuloh Yusuf.

Menurutnya, Gus Salam dikenal akrab dengan peserta lain dan mampu menciptakan suasana hangat melalui gaya komunikasi yang santai dan penuh humor.

Syaifuloh juga menjelaskan bahwa sejak awal kegiatan, Gus Salam dipercaya secara aklamasi oleh 83 peserta sebagai ketua kelas. Selama pelaksanaan PMKNU, ia dinilai aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan serta menunjukkan kedisiplinan yang baik.

“Gus Salam mengikuti seluruh sesi kegiatan, termasuk olahraga fisik setelah salat Subuh. Beliau juga tidak menampilkan diri sebagai cucu pendiri NU, melainkan berbaur seperti peserta lainnya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Gus Salam memberikan contoh dalam hal ketepatan waktu, keterbukaan dalam berdiskusi, serta kesediaan memimpin yel-yel dan menyanyikan Mars Kader PMKNU bersama peserta lainnya.

Berdasarkan pengalamannya selama mengikuti PMKNU, Syaifuloh menilai Gus Salam memiliki karakter kepemimpinan yang layak dipertimbangkan dalam kontestasi Ketua Umum PBNU mendatang.

“Menurut saya, Gus Salam merupakan figur yang layak dan tepat menjadi Ketua Umum PBNU. Beliau menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap rendah hati yang dapat menjadi inspirasi bagi kader dan pengurus NU,” ujarnya.

Syaifuloh juga mengungkapkan bahwa dalam sambutan kelulusannya, Gus Salam sempat menyampaikan niat untuk mengajak peserta, instruktur, dan tim asistensi PMKNU melakukan kunjungan pembelajaran ke Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung, apabila kelak mendapat amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

Pesantren Al-Ittifaq dikenal sebagai salah satu pesantren yang mengembangkan model pendidikan berbasis agribisnis. Selain mengajarkan ilmu keagamaan, pesantren tersebut juga mendorong kemandirian santri melalui sektor pertanian, peternakan, dan perdagangan.

Menurut Syaifuloh, gagasan tersebut menunjukkan perhatian Gus Salam terhadap penguatan ekonomi umat melalui pemberdayaan pesantren dan pengembangan sektor usaha berbasis komunitas.

“Beliau ingin menanamkan semangat saling belajar, saling menguatkan, dan membangun kemandirian ekonomi pesantren, warga NU, santri, alumni, serta masyarakat secara lebih luas,” pungkasnya.

 

PEWARTA [ SUPRAPTO ]

Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:

Email: trikaryabangkit@gmail.com
WhatsApp: +62 877-8841-0108

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *