Rorokembang Surabaya — Impian melihat sang buah hati mengenakan jaket almamater Universitas Negeri ternama berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang Bapak berinisial AP (49). Alih-alih mendapatkan kepastian kursi kuliah bagi anaknya dalam Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun ini, ia justru terjerat tawaran pusaran pemerasan hingga belasan juta rupiah.
Kasus yang menimpa AP bukan cerita baru, namun polanya kian canggih dengan memanfaatkan celah psikologis orang tua yang cemas akan masa depan anak mereka.
Modus Operandi: Memanfaatkan Momentum, Manipulasi Dan Kebocoran Data.
Kajian terhadap kasus-kasus serupa menunjukkan adanya pola terstruktur yang dilakukan oleh para “calo” akademik. Berdasarkan penelusuran, pelaku biasanya bergerak dalam tiga tahapan taktis:
- Infiltrasi dan Mapping Opini: Pelaku mencari target di grup-grup diskusi daring orang tua calon mahasiswa baru atau di sekitar lokasi ujian. Mereka membaca situasi psikologis orang tua yang anaknya merasa kurang optimistis dengan hasil tes (UTBK).
- Menjual “Kuota Siluman”: Dengan mengaku memiliki jaringan internal (orang dalam) di jajaran rektorat atau kepanitiaan SPMB, pelaku menawarkan jaminan kelulusan melalui jalur mandiri dengan syarat membayar “Uang Pangkal Tambahan”. Bahkan Calo Pemeras menawarkan jasa untuk mendapatkan Beasiswa dalam proses perkuliahan Mahasiswa bersangkutan apabila menggunakan jasa mereka.
- Eskalasi Intimidasi (Pemerasan): Ketika pengumuman resmi semakin dekat, pelaku mulai meminta uang tambahan secara berkala dengan alasan “biaya pengondisian sistem” atau “pajak dadakan”. Jika korban ragu, pelaku mengancam akan mem-blacklist nama sang anak dari sistem nasional.
- Indikasi kebocoran Data, dengan ada kejadian Calo Pemeras langsung menghubungi orang tua korban di no HP.
”Mereka tahu persis di mana titik lemah kami. Saat kita sudah keluar uang pertama, kita pasti akan seperti disandera” ujar AP.
Analisis Sistemik: Celah pada Jalur Mandiri
Mengapa praktik ini subur? Pengamat Pendidikan Universitas Indonesia, Dr. Hermawan, menilai bahwa transparansi Jalur Mandiri kerap kali menjadi wilayah abu-abu yang dimanfaatkan spekulan.
Sebenarnya, panitia pusat SPMB telah memperketat digitalisasi sistem. Namun, para calo melakukan tindakan bluffing (gertak sambal). Mereka memanfaatkan fakta bahwa anak korban sebenarnya memang memiliki kemampuan untuk lolos secara murni. Ketika si anak lolos, calo akan mengeklaim itu adalah hasil kerja keras “orang dalam” mereka dan menagih sisa uang taruhan. Sebaliknya, jika si anak gagal, pelaku akan menghilang dan memutus nomor kontak.
Edukasi Jurnalistik: Langkah Pencegahan bagi Orang Tua, Melalui laporan ini, pers bertindak sebagai fungsi edukasi dan kontrol sosial. Masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda penipuan SPMB:
- Tidak ada “Uang Muka” informal: Semua pembayaran resmi universitas menggunakan sistem Virtual Account (VA) bank resmi, bukan rekening perorangan.
- Akses Informasi Tunggal: Hasil seleksi hanya diumumkan melalui laman resmi berdomain .ac.id atau mirror site resmi yang ditunjuk Kemendikbud.
- Gunakan Kanal Pengaduan: Jika Anda mencium adanya gelagat pemerasan, segera laporkan ke platform resmi kementerian atau pihak berwajib tanpa takut anak Anda didiskualifikasi, karena proses seleksi resmi tidak dipengaruhi oleh ancaman calo luar.
Negara tidak boleh kalah oleh pemburu rente pendidikan. Gerbang kampus seharusnya menjadi simbol meritokrasi, tempat di mana kecerdasan dan kerja keras dihargai, bukan platform transaksi di bawah meja yang merusak mentalitas generasi penerus bangsa.
Pewarta Bobi Hindarko
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Bagi pihak yang merasa dirugikan atau ingin memberikan tanggapan terkait muatan tulisan ini, hak jawab dan koreksi dapat disampaikan secara tertulis disertai identitas resmi. Silakan hubungi redaksi melalui:
Email: trikaryabangkit@gmail.com
WhatsApp: +62 877-8841-0108


















