banner 728x250

Gus Fahrur: Anak Kiai Harus Belajar Rendah Hati, Jangan Tumbuh dengan Mental Feodal

banner 120x600
banner 468x60

ROROKEMBANG Kediri, 20 Juni 2026 – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, menegaskan bahwa anak kiai harus dididik menjadi pribadi yang rendah hati, mandiri, dan terbuka terhadap kritik. Menurutnya, salah satu cara terbaik untuk membentuk karakter tersebut adalah dengan menempuh pendidikan di pesantren lain, bukan hanya tumbuh di lingkungan pesantren milik keluarganya sendiri.

 

banner 325x300

“Saya lahir dan dibesarkan di pesantren. Sejak kecil saya menyaksikan bagaimana para kiai generasi terdahulu mendidik anak-anaknya dengan disiplin, kesederhanaan, dan kerja keras,” ujar Gus Fahrur.

 

Ia mengaku prihatin melihat sebagian anak kiai yang tumbuh dengan mental feodal, merasa selalu benar, wajib dihormati, dan tidak boleh dikritik hanya karena memiliki garis keturunan dari keluarga pesantren.

 

Menurutnya, ketika seorang anak kiai hanya berada di lingkungan pesantren milik keluarganya, ia sering kali mendapatkan perlakuan istimewa. Kesalahan ditoleransi, pendapatnya selalu dianggap benar, dan hampir tidak ada yang berani menegur.

 

“Jika kondisi seperti ini berlangsung terus-menerus, yang tumbuh bukanlah karakter kepemimpinan, melainkan kesombongan,” katanya.

 

Gus Fahrur kemudian mengenang didikan ayahnya yang sangat tegas. Bahkan, sang ayah melarang anak-anaknya dipanggil dengan sebutan “Gus”. Mereka justru dibiasakan memanggil santri lain dengan sapaan “Cak” atau “Mas” agar tidak tumbuh dengan perasaan lebih tinggi daripada orang lain.

 

Dalam kesehariannya, ia dan saudara-saudaranya juga diperlakukan lebih keras dibandingkan santri pada umumnya. Ia pernah diminta menyetorkan hafalan kitab Fathul Qarib dan Jurumiyah secara langsung kepada ayahnya. Jika tidak hafal, ia harus menerima hukuman berdiri.

 

“Saya pernah bolos mengaji dan ayah saya sendiri yang menggunduli kepala saya sebagai bentuk pendidikan disiplin,” kenangnya.

 

Pengalaman lain yang membekas terjadi ketika ia baru dua hari mondok di Pesantren Lirboyo. Saat itu, almarhum Gus Maksum memanggilnya dan memintanya membersihkan seluruh kotoran kandang sapi di belakang workshop.

 

“Sambil tertawa beliau berkata, ‘Anak kiai harus dilatih bekerja supaya tidak sombong’,” tutur Gus Fahrur.

 

Kalimat tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran berharga yang terus diingat sepanjang hidup.

 

Almarhum Gus Maksum juga kerap berpesan, “Anak kiai tinggalkan dulu gelar gus-nya di pagar sebelum masuk pondok.”

 

Bagi Gus Fahrur, pesan sederhana tersebut mengandung filosofi pendidikan yang mendalam. Pesantren bukanlah tempat melestarikan feodalisme, melainkan tempat menempa akhlak, ilmu, kemandirian, dan kerendahan hati.

 

Selama mondok, ia bersama beberapa anak kiai lainnya juga diajak bekerja di kebun, merawat pohon jeruk dan belimbing, hingga mengurus peternakan lele dan sapi.

 

“Kami diajari bahwa kemuliaan tidak lahir dari nasab semata, tetapi dari ilmu, adab, dan kerja keras,” ujarnya.

 

Ia menilai, saat ini masih terdapat sebagian anak kiai yang tidak pernah merasakan kehidupan sebagai santri biasa di pesantren lain. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan mental “jago kandang”, merasa lebih baik dari orang lain, menuntut perlakuan istimewa, dan menganggap kritik sebagai penghinaan.

 

Padahal, lanjutnya, masyarakat saat ini sudah semakin maju dan rasional. Penghormatan tidak lagi diberikan semata-mata karena garis keturunan, tetapi juga karena kapasitas, integritas, dan keteladanan.

 

Gus Fahrur menegaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kesombongan atas dasar nasab. Ia mengingatkan bahwa anak Nabi Nuh tidak selamat hanya karena ayahnya seorang nabi, dan salah satu putra Nabi Adam juga dikenal durhaka.

 

Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda kepada putrinya, Sayyidah Fatimah:

 

“Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat menyelamatkanmu dari azab Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Menurut Gus Fahrur, hadis tersebut menunjukkan bahwa nasab merupakan kehormatan, tetapi bukan jaminan kemuliaan di sisi Allah SWT.

 

Karena itu, ia menilai mental feodal harus dikikis sejak dini. Anak kiai perlu dibiasakan hidup sederhana, bekerja keras, bergaul dengan berbagai kalangan, menerima kritik, dan belajar di tempat lain agar memiliki pandangan yang lebih luas.

 

“Kita membutuhkan generasi penerus pesantren yang egaliter, profesional, rasional, dan rendah hati. Bukan generasi yang besar karena nama ayahnya, tetapi kecil dalam kapasitas dan pengabdiannya,” tegasnya.

 

Menurutnya, masa depan pesantren tidak akan ditentukan oleh siapa orang tuanya, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga amanah, memberi teladan, dan mengabdi kepada umat dengan penuh kerendahan hati.

 

 

PEWARTA [ SUPRAPTO ]

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:

 

Email: trikaryabangkit@gmail.com

WhatsApp: +62 877-8841-0108

banner 325x300