ROROKEMBANG SURABAYA — Fenomena alam tak biasa melanda Kota Surabaya. Hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Pahlawan sejak dini hari, menyebabkan sejumlah protokol jalan dan permukiman warga tergenang banjir pada Selasa (23/6/2026). Salah satu kawasan yang terdampak paling parah berada di Kecamatan Tenggilis Mejoyo, dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa pada pukul 07.40 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa banjir di tengah musim kemarau ini dipicu oleh anomali cuaca berupa gangguan atmosfer dinamika Gelombang Rossby yang tengah melintas di wilayah Jawa Timur. Faktor inilah yang mengakibatkan terbentuknya pumpunan awan konvektif (hujan) yang sangat tebal, menumpahkan air dalam volume besar dalam waktu singkat.
Ironisnya, luapan air ini terjadi bertepatan dengan momentum krusial sektor pendidikan, yakni pelaksanaan ujian online mahasiswa Universitas Terbuka (UT) yang tersebar di sejumlah sekolah di Surabaya. Salah satu titik ujian kelulusan bertempat di SMP Negeri 17 Surabaya.
Kondisi ini memaksa para peserta ujian berjuang ekstra. Ubait, seorang mahasiswa program studi Administrasi Negara semester 4, menceritakan pengalamannya menerobos kepungan air. Ia terpaksa berjalan kaki menyusuri genangan selama 20 menit agar tidak terlambat masuk ruang ujian. Dalam kondisi normal, jarak tersebut biasanya hanya memakan waktu 7 menit menggunakan sepeda motor.
“Saya melihat beberapa rekan mahasiswa yang hendak ujian sempat meminta bantuan armada logistik kepada petugas pemadam kebakaran (Damkar) untuk melintasi genangan, namun petugas menyampaikan kapasitas mereka terbatas dan tidak bisa memberikan fasilitas pengantaran antar-jemput,” tutur Ubait.
Enggan mengambil risiko kendaraannya mogok akibat water hammer, Ubait memilih mengamankan situasi dengan menitipkan sepeda motornya di kompleks SMA Negeri 14 Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menerjang arus banjir.
Menurut Ubait, peristiwa ini menjadi tamparan keras bahwa problem klasik banjir masih menjadi momok yang melumpuhkan produktivitas warga, bahkan mengancam kelancaran agenda akademis. Ia mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di bawah dinas terkait untuk mempercepat mitigasi penanganan di hilir serta mengevaluasi masterplan drainase kota secara berkelanjutan.
“Respons taktis di lapangan dan perbaikan kapasitas saluran air sangat mendesak. Infrastruktur kita harus siap menghadapi anomali cuaca seperti ini agar aktivitas publik tidak lumpuh setiap kali hujan lebat mengguyur,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, genangan air di kawasan Tenggilis Mejoyo dilaporkan mulai surut perlahan berkat optimalisasi rumah pompa, meski menyisakan kepadatan lalu lintas. Warga Surabaya menaruh harapan besar pada langkah konkret Pemkot dalam memperkuat daya tampung sistem drainase guna mengantisipasi cuaca ekstrem di luar musim penghujan.
PEWARTA ANIS S
Catatan Redaksi:
Tulisan ini merupakan opini penulis berdasarkan pandangan umum terhadap fenomena sosial dan penegakan hukum. Redaksi menghormati asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Silakan hubungi redaksi melalui:
Email: trikaryabangkit@gmail.com
WhatsApp: +62 877-8841-0108


















