ROROKEMBANG TULUNGAGUNG – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) yang beriringan dengan hari kelahiran Ketua Umum Hj. Megawati Soekarnoputri, tidak sekadar dirayakan dengan seremoni internal di Kabupaten Tulungagung. Momen sakral bagi kader partai berlambang banteng ini dimaknai melalui aksi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi yang nyata. Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung, Marsono, menerjemahkan instruksi partai untuk “turun ke bawah” dengan membagikan sebanyak 21.000 benih kopi siap tanam. Kegiatan strategis ini dilaksanakan di Dusun Tipes, Desa Nyawangan, Kecamatan Sendang, pada Selasa (21/01/2026).
Pemilihan Desa Nyawangan, khususnya Dusun Tipes, sebagai lokasi distribusi bukan tanpa alasan. Kawasan yang berada di lereng Gunung Wilis ini memiliki topografi dan suhu yang sangat ideal untuk budidaya tanaman kopi. Selain bernilai ekonomis tinggi, tanaman kopi juga memiliki fungsi konservasi untuk menahan erosi tanah di wilayah dataran tinggi. Dalam sambutannya, Marsono menegaskan bahwa kegiatan ini adalah manifestasi dari instruksi Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang selalu menekankan pentingnya menjaga lingkungan sekaligus membangun kedaulatan pangan dan ekonomi.
“Peringatan HUT PDIP dan ulang tahun Ibu Megawati tidak seharusnya berhenti pada seremoni atau potong tumpeng saja. Momentum ini harus diwujudkan melalui kerja konkret yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Benih kopi ini adalah bentuk keberpihakan kami kepada petani dan upaya membangun ekonomi desa yang berkelanjutan,” ujar Marsono di hadapan para kelompok tani.
Politisi senior PDI Perjuangan Tulungagung ini menjelaskan, angka 21.000 benih yang dibagikan memiliki filosofi semangat gotong royong yang masif. Ia berharap, ribuan pohon ini kelak akan menjadi aset produktif yang menopang perekonomian keluarga di Desa Nyawangan. Lebih jauh, Marsono menyoroti konsep Trisakti Bung Karno, khususnya poin ‘Berdikari dalam Bidang Ekonomi’. Menurutnya, kemandirian ekonomi harus dimulai dari potensi lokal. Kopi, yang kini menjadi komoditas global dengan permintaan pasar yang terus meningkat, adalah potensi emas bagi petani Tulungagung.
“Ibu Megawati selalu berpesan agar kader PDIP wajib hadir bersama rakyat, menangis dan tertawa bersama rakyat. Kehadiran kami bukan hanya saat menjelang Pemilu, tetapi setiap saat untuk memastikan rakyat bisa berdaya. Dengan menanam kopi, kita sedang menanam harapan untuk panen kesejahteraan di masa depan,” tegasnya.
Benih kopi yang dibagikan pun bukan sembarang bibit. Marsono memastikan bahwa 21.000 benih tersebut berasal dari pusat pembenihan mandiri rakyat yang telah melalui proses seleksi ketat (kurasi). Hal ini untuk menjamin tingkat kehidupan tanaman yang tinggi dan kualitas buah yang optimal saat panen nanti. Tidak hanya sekadar memberikan bibit lalu pergi, Marsono juga merancang skema pendampingan jangka panjang. Ia menyadari bahwa tantangan petani kopi bukan hanya pada fase tanam, melainkan pada perawatan dan pascapanen.
“Ke depan, kami mendorong adanya pendampingan intensif. Petani tidak boleh hanya diajarkan menanam, tetapi juga harus mampu mengelola pascapanen. Bagaimana yang baik, bagaimana pengemasan, hingga pemasaran. Tujuannya agar nilai tambah ekonomi tetap berada di desa, tidak lari ke tengkulak,” imbuhnya.
Bantuan ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh warga setempat. Sutrisno, salah satu warga penerima bantuan, mengungkapkan rasa terima kasihnya. Bagi warga Dusun Tipes, bantuan bibit produktif seperti ini jauh lebih berharga karena bersifat jangka panjang.
“Bagi kami masyarakat kecil, ini bukan sekadar bantuan barang, tapi sebuah harapan. Tanah di sini subur, tapi kadang kami kesulitan bibit unggul. Kalau kopi ini berhasil tumbuh besar, tentu bisa menambah penghasilan keluarga kami secara rutin,” kata Sutrisno.
Warga berharap program pemberdayaan berbasis pertanian seperti yang dilakukan oleh Marsono dan PDI Perjuangan ini dapat terus berlanjut. Mereka juga mengharapkan adanya sinergi dengan dinas terkait untuk penyuluhan teknis agar Desa Nyawangan bisa benar-benar bertransformasi menjadi sentra kopi unggulan di Tulungagung. Melalui gerakan menanam 21.000 pohon kopi ini, PDIP Tulungagung sekali lagi menegaskan posisinya sebagai partai yang bergerak dalam nafas ‘Politik Hijau’—politik yang merawat bumi sekaligus menyejahterakan penghuninya.
Pewarta T Santoso
Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami,sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12)Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: trikaryabangkit@gmail.com atau WA +6287788410108 Terima kasih.

















